Gagal UN Karena Bahasa Indonesia


Artikel:
GAGAL UN KARENA BAHASA INDONESIA

Judul: GAGAL UN KARENA BAHASA INDONESIA
Nama & E-mail (Penulis): Syamsuriadi, S.Pd
Gagal UN Karena Bahasa Indonesia
(Indikasi kurangnya perhatian terhadap bahasa sendiri)

Oleh : Syamsuriadi Syam, S.Pd

Ada hal yang menarik dari hasil Ujian Nasional (UN) tahun pelajaran 2004/2005. Yaitu, dari sekitar 800.000 siswa SMP/SMA di seluruh Indonesia yang tidak lulus, sebagian diantaranya disebabkan oleh nilai pelajaran bahasa Indonesia yang tidak mencapai standar. Padahal Standar kelulusan 4,25 yang ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional sebenarnya tergolong rendah dan masih jauh dari standar internasional yaitu 5,6.

Lebih jauh lagi kalau melihat nilai-nilai perolehan hasil UN tersebut, nilai untuk mata pelajaran lain seperti matematika, IPA, bahasa Inggris, Ekonomi, memperoleh nilai yang lebih tinggi. Bahkan ada siswa yang mampu memperoleh nilai maksimal untuk mata pelajaran bahasa Inggris.

Ini memang dilematis, karena bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional kita sendiri. Bahasa yang dipergunakan sehari-hari dan begitu akrab dengan kita. Namun itulah faktanya. Mungkin karena sedemikian dekatnya, sehingga cenderung dianggap hal yang sepele. Seperti kasus banyaknya orang yang tidak hapal nomor teleponnya sendiri.

Lantas di mana letak masalahnya sehingga semua ini bisa terjadi ?. Menurut penulis, peyebabnya ada beberap hal diantaranya adalah: Motivasi anak-anak kita untuk mempelajari bahasa Indonesia, tidak sekuat untuk mempelajari bahasa lain seperti bahasa Inggris, Jepang, Korea, Mandarin dan sebagainya. Karena bahasa asing yang telah disebutkan tadi, dianggap sebagai bahasa yang menjanjikan masa depan cerah, terutama dalam prospek dunia kerja. Alasan ini memang sangat logis, karena untuk kepentingan interaksi dengan dunia luar dan pergaulan internasional, penguasaan bahasa asing merupakan hal yang mutlak. Dunia kerja, selalu menjadikan kemampuan bahasa asing sebagai salah satu persyaratan utama dalam menerima calon pekerja atau karyawan.

Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah sebagai salah satu media utama dalam menanamkan pengetahuan bahasa Indonesia, belum dapat berfungsi secara maksimal, diakibatkan oleh beberapa faktor. Tuntutan materi pelajaran dari kurikulum yang terlalu luas, sehingga terlalu banyak yang mesti diajarkan oleh guru kepada siswa. Guru bahasa Indonesia sebagai pihak yang diberikan tanggung jawab utama untuk mengajarkan dan memperkenalkan bahasa Indonesia, belum dapat berperan sesuai yang diharapkan. Karena masih ada sebagian guru yang tidak didukung oleh pengetahuan dan kemampuan yang harus dimiliki sebagai seorang guru bahasa Indonesia.

Kepedulian guru-guru lain selain guru bahasa Indonesia, masih minim dalam membantu menanamkan perhatian dan kesadaran akan pentingnya bahasa Indonesia kepada siswa, dengan alasan bahwa, pengajaran bahasa adalah tanggung jawab guru bahasa Indonesia sepenuhnya. Buku-buku teks pelajaran yang merupakan buku bacaan wajib bagi siswa, masih banyak yang belum menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang seharusnya. Demikian juga dengan buku-buku bacaan pendukung yang ada di perpustakaan

Media massa sebagai sarana pemberi informasi yang diharapkan turut berperan dalam pengembangan bahasa Indonesia, belum dapat berfungsi ideal. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa, pada media itu sendiri, masih sering ditemukan kesalahan-kesalahan penggunaan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidahnya. Sebagai contoh, pada media televisi masih sering kita dengar pengucapan dan pelafalan kata yang salah. Seperti kata p�ka yang biasa dilafalkan dengan menggunakan � (e pepet). Padahal yang benar dalam pengucapannya adalah, bunyi e dilafalkan dengan � biasa, sama dengan bunyi e pada kata ekor, meter dan sebagainya. Demikian juga dengan kata teras, semuanya dilafalkan dengan bunyi yang sama. Padahal, dalam bahasa Indonesia ada dua kata teras. T�ras yang dilafalkan dengan e biasa seperti pada teras rumah, dan di lafalkan dengan bunyi e pepet pada pejabat t�ras. Demikian juga pada surat kabar sebagai salah satu media massa, masih sering ditemukan kesalahan-kesalahan. Baik dari segi penggunaan tanda baca, penulisan kata ataupun kesalahan dalam penggunaan kata yang tepat. Masih banyak sebenarnya faktor-faktor yang meyebabkan bahasa kita mengalami nasib seperti itu. Diantaranya dialek bahasa daerah, budaya dikalangan anak muda yang senang menggunakan bahasa gaul atau bahasa prokem. Namun yang lebih penting sekarang adalah mencari solusi untuk mengatasi semua masalah tersebut.

Mempelajari bahasa asing memang menjadi tuntutan perkembangan zaman, namun melupakan bahasa sendiri adalah tindakan yang keliru. Seharusnya kita malu kepada bangsa Jepang, China dan Korea?. Negara yang nota bene mempunyai keunggulan teknologi dan tingkat kemajuan yang tinggi, namun tetap bangga dengan bahasanya sendiri. Apakah kita tidak merasa risih kalau di beberapa negara, pelajaran bahasa Indonesia termasuk pelajaran utama ?. Mengapa kita tidak pernah berpikir bahwa, kalau bahasa lain bisa menjadi bahasa yang begitu penting. Suatu saat, bahasa Indonesia juga akan menjadi bahasa yang demikian.

Ini bukanlah impian yang mustahil. Peluang ke arah itu sangat besar. Salah satu keunggulannya adalah karena kita didukung oleh beberapa negara yang mempunyai bahasa yang serumpun dengan kita, seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan sebagian Singapura. Saya kira motivasi inilah yang perlu ditanamkan kepada generasi kita. Dunia kerja dalam menerima karyawan, dituntut juga menjadikan kemampuan berbahasa Indonesia sebagai kemampuan yang harus dimiliki selain bahasa asing lainnya. Karyawan yang mampu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai tempatnya, harus dijadikan keunggulan tersendiri. Sebab hakiki yang terkandung di dalam menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah dan aturannya adalah menghargai lawan berkomunikasi atau menghargai orang lain. Dalam dunia usaha, ini tentunya sangat penting.

Sekolah sebagai media utama pembelajaran bahasa diharapkan dapat berfungsi maksimal. Kurikulum yang ada perlu ditinjau kembali, sehingga guru tidak menjejali siswa dengan begitu banyak materi pelajaran yang membuat pelajaran bahasa Indonesia kurang diminati. Pelajaran mengarang yang terkadang dianaktirikan, justeru harus memiliki proporsi yang besar, karena dengan pelajaran ini, beberapa aspek pengetahuan bahasa bisa dikembangkan. Guru-guru Bahasa Indonesia, diharapkan selalu berusaha untuk membekali diri dengan pengetahuan dan kemampuan bahasa Indonesia yang sesuai dengan perkembangan bahasa Indonesia itu sendiri. Menurut J.S. Badudu dalam bukunya Cakrawala Bahasa Indonesia. Guru bahasa Indonesia yang baik bukan hanya menguasai aspek tata bahasa dan struktur kebahasaan, tetapi juga menguasi aspek bahasa lain seperti kesusastraan. Banyak cara yang bisa dilakukan, seperti dengan banyak membaca buku-buku yang berhubungan dengan bahasa Indonesia, mengikuti pelatihan-pelatihan, penataran dan sejenisnya.

Buku-buku teks pelajaran dan buku bacaan penunjang lainnya, sebelum diterbitkan terlebih dahulu harus diedit dan dikoreksi oleh pakar bahasa Indonesia. Guru-guru mata pelajaran lain selain guru bahasa Indonesia, harus sadar bahwa, pembelajaran bahasa Indonesia bukan hanya menjadi tanggung jawab guru bahasa Indonesia sepenuhnya. Tetapi adalah tanggung jawab kita bersama, karena bahasa bagi sesuatu bangsa, merupakan jati diri yang menunjukkan tingkat peradaban bangsa itu sendiri. Apalagi suatu keitimewaan bagi kita yang jarang dimiliki oleh bangsa lain adalah bahasa kita menjadi bahasa nasional kita juga. Media massa, baik media audio, visual maupun audio visual diharapkan agar dalam menyajikan informasi lebih selektif menggunakan bahasa Indonesia. Pada konteks tertentu, haruslah menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seperti pada berita resmi atau informasi resmi. Sebab dengan perannya sebagai pemberi informasi yang hampir dipergunakan orang setiap hari. Kesalahan-kesalahan penggunaan bahasa Indonesia akan berpengaruh besar terhadap penggunanya.

Terakhir, marilah kita menyadari bersama bahwa, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional kita haruslah menjadi sesuatu hal yang penting, bahkan lebih penting dari bahasa lain. Karena seperti pepatah mengatakan bahwa “bahasa menunjukkan bangsa”. Tingginya kualitas bahasa suatu bangsa, menjadi ciri tingginya peradaban bangsa itu sendiri.

Saya Syamsuriadi, S.Pd setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

~ by arie andary on 28 April 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: